BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Direct Selling/penjualan langsung adalah cara memasarkan
produk maupun jasa langsung kepada pelanggan langsung, yaitu secara temu muka.
Temu muka ini umumnya berlangsung di rumah pelanggan atau di rumah teman, atau,
tempat lain di luar lokasi pengecer. Direct Selling ini sudah banyak diterapkan
oleh pengusaha-pengusaha untuk mengawali proses karier atau usaha yang mereka
lakukan.
Direct
selling modern mencakup penjualan yang dilakukan melalui rencana penjualan perpartai,
demonstrasi, dan pengaturan kontak pribadi serta penjualan internet. Definisi
buku teks menjajakan (peddling) adalah: “presentasi pribadi langsung,
demonstrasi, dan penjualan produk dan layanan kepada konsumen, biasanya di
rumah mereka atau di lokasi kerja mereka.”
Dalam
sejarah bisnis ini, direct selling dalam bentuknya yang sekarang (dianggap)
pertama kali muncul dengan beroperasinya The California Perfume Company di New
York tahun 1886 yang didirikan oleh Dave McConnel. McConnell inilah yang
memiliki ide mempekerjakan Mrs. Albee sebagai California Perfume Lady yang
pertama dengan cara menjual langsung kepada konsumen dari rumah ke rumah.
Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Avon pada tahun 1939, sementara
Mrs. Albee sendiri dianggap sebagai pioneer metode penjualan direct selling.
Kemudian Nutrilite tahun 1934 di California dengan metode penjualan baru, yaitu
memberi komisi tambahan pada distributor independen yang berhasil merekrut,
melatih, dan membantu anggota baru itu untuk ikut menjual produk. Metode baru
ini memungkinkan seorang distributor terus merekrut anggota baru dengan
kedalaman dan keluasan yang tidak terbatas. Berikutnya tahun 1956 berdiri
Shaklee dan tahun 1959 berdiri Amway dengan metode penjualan
yang
sama, yang kemudian lebih dikenal dengan metode penjualan multi level
marketing.
Federasi
Dunia Asosiasi Penjualan Langsung (WFDSA), melaporkan bahwa asosiasi yang
anggotanya meliputi 59 daerah menyumbang lebih dari US $114 Miliar pada
penjualan ritel di tahun 2007, melalui kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari
62 juta perwakilan penjualan independen. Direct Selling Association (DSA)
Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2000, 55% orang dewasa Amerika pada
beberapa waktu pembelian barang atau jasa dari seorang wakil penjualan langsung
dan 20% melaporkan bahwa mereka saat ini (6%) atau berada di masa lalu ( 14%)
melakukan pembelian pada perwakilan penjualan langsung.
B.
Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini “Direct Selling”. Maka
makalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1.
Pengertian Direct
Selling
2.
Apa saja tipe-tipe dasar
Direct Selling ?
3.
Apa saja yang termasuk Direct Selling?
4.
Bagaimana kita mengetahui perusahaan yang melakukan penjualan langsung
dengan benar?
5.
Bagaimana perbedaan dan persamaan direct selling dan sistem piramida?
C. Tujuan
masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah
yang dibahas dibatasi pada masalah ruang lingkup Direct Selling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
STUDY LITURAL
Penjualan langsung adalah pemasaran dan
penjualan produk langsung ke konsumen menjauh dari lokasi eceran tetap.
menjajakan adalah bentuk tertua dari penjualan langsung. direct selling modern mencakup penjualan yang
dilakukan melalui rencana partai , satu-satu demonstrasi, dan pengaturan kontak
pribadi lainnya serta penjualan internet. Sebuah definisi buku teks adalah:
"Presentasi langsung pribadi, demonstrasi, dan penjualan produk dan
layanan kepada konsumen, biasanya di rumah mereka atau pekerjaan mereka"
Seperti beberapa bidang yang menggunakan
pola Direct Selling misalnya: Tupperware Corporation yang berpusat di Orlando
Amerika Serikat adalah perusahaan multinasional yang memproduksi serta
memasarkan produk plastik berkualitas untuk keperluan rumah tangga. Dengan
sistem penjualan langsung (direct selling), Tupperware berkembang dan berada di
lebih dari 100 negara. Di banyak Negara,
di antara perusahaan direct selling lain Tupperware berhasil menempati ranking
atas.
Berkat penemuannya yang gemilang tahun
1937 di Amerika & dikembangkan tahun 1946, Earl Tupper melahirkan berbagai
produk innovatif bermerek Tupperware. Kehadirannya mempermudah dan memperindah
kehidupan para ibu rumah tangga di Amerika.
Home party Tupperware yang dikenal
sebagai Tupperware Party adalah cara penjualan yang unik, informatif dan menghibur.
Cara ini pertama kali diperkenalkan oleh Brownie Wise.
Kejeliannya memanfaatkan teknologi
membuat Tupperware tanggap dengan berbagai perubahan yang terjadi di
masyarakat. Tupperware selalu melahirkan produk baru berkualitas yang innovatif,
berdesain unik.
Bahan yang digunakanpun berkualitas
terbaik, aman bagi kesehatan serta ramah lingkungan. Sesuai dengan komitmennya
dalam memberi kepuasan maksimal kepada semua pencinta dan penggunanya,
Tupperware tak ragu untuk memberikan garansi seumur hidup (sesuai pemakaian
normal).
Secara resmi Tupperware dipasarkan di
Indonesia tahun 1991. PT. Alif Rose di Jakarta merupakan distributor resmi
pertama Tupperware, dan kini sudah lebih dari 70 Distributor resmi yang tersebar
di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Didukung lebih dari 170.000 tenaga
penjual independen, produk Tupperware berhasil menembus berbagai kalangan.
Pelatihan dan bimbingan yang diberikan merupakan bekal untuk menjadi tenaga
penjual yang tangguh. Meski terdiri dari berbagai latar belakang ekonomi dan
pendidikan, namun ada satu persamaannya yaitu bisa menyisihkan waktu untuk
keluarga, sekaligus memiliki karir dan penghasilan yang sangat memuaskan.
Visi Tupperware Indonesia adalah menjadi
Company of Choice dan Brand of Choice.
Sedangkan misinya adalah merubah hidup lebih banyak orang menjadi lebih
baik lagi.
1. Apa itu
Direct Selling (Penjualan Langsung)?
Direct Selling
(Penjualan Langsung) adalah :
Metode penjualan barang atau jasa tertentu kepada
konsumen dengan cara tatap muka di luar lokasi eceran tetap oleh jaringan
pemasaran yang dikembangkan oleh mitra usaha dan bekerja berdasarkan komisi
penjualan, bonus penjualan dan iuran keanggotaan yang wajar.
2. Apa saja
tipe-tipe dasar Direct Selling ?
Tiga Tipe Dasar Direct
Selling ada 3, yaitu :
·
One on One, dalam sistem ini seorang
penjual, yang merupakan agen/anggota/kontraktor yang mandiri atau lepas,
menarik konsumen yang berpotensi di area khusus berdasarkan pendekatan orang ke
orang. Mereka menawarkan produk, serta mendapat komisi atau basis lain.
Pendapatan mereka dapat juga diperoleh dari selisih harga pembelian ke supplier
dan penjualan ke konsumen. Cara ini sering digunakan oleh para member broker/marketing
associate suatu agen properti (ERA, Lj. Hooker, Coldwell Banker, dll), dan para
agen asuransi (Prudential, Sequis Life, Jiwasraya, dll).
·
Party Plan, pada metode seorang penjual,
karyawan lepas atau tetap, bertugas mencari atau menjadi tuan rumah yang
mengundang sekelompok orang di rumahnya dalam rangka sales party untuk
mendemonstrasikan produk. Penghasilan si penjual juga atas dasar selisih harga
eceran. Si tuan rumah biasanya diberikan hadiah sebagai tanda terima kasih
sesuai dengan nilai penjualan tertentu. Model ini sering digunakan oleh
distributor peralatan rumah tangga, kosmetika, minuman kesehatan, dan nutrisi
kesehatan. PT. Imawi Benjaya, yang mengusung merek Tupperware dengan produk
kemasan plastik, merupakan salah satu dari perusahaan yang sukses dan cukup
terkenal di kalangan ibu-ibu rumah tangga, di dalam menerapkan metode penjualan
ini.
·
Multilevel Marketing (MLM) atau System
Networking, adalah penjualan secara bertingkat dari distributor mandiri yang
memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan dalam dua cara. Pertama,
penjualan produk langsung ke konsumen. Kedua, distributor bisa menerima
potongan harga atas dasar jumlah produk/jasa yang dibeli oleh anggota kelompok
bisnis untuk penjualan atau pemakaian, termasuk jumlah penjualan pribadi. Atau
dalam arti lain, MLM atau Network Marketing adalah kegiatan mendistribusikan,
menjual atau menyuplai produk/jasa melalui individu yang ditunjuk sebagai agen
atau distributor. Agen ini dibayar dalam bentuk komisi, diskon, bonus dan
reward lainnya, berdasarkan jumlah penjualan dan kemampuannya merekrut agen.
Perekrut disebut upline, sedangkan yang direkrut disebut downline. Dalam sistem
MLM, upline juga mendapatkan reward dari besarnya penjualan downline yang
berada di bawahnya langsung, dan penjualan downline tidak langsung (yang
levelnya berada dua tingkat atau lebih di bawahnya).
Khusus untuk model pemasaran MLM ini, di Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dahsyat, serta terbukti menjadi salah satu industri yang turut menjadi pilar perekonomian yang patut diperhitungkan. Terbukti banyak pemasar yang sukses di bidang ini memulai dari nol, dan rata-rata mereka berusia di bawah 40 tahun. Nama-nama MLM seperti Tianshi, CNI, Sophie Martin, Amway, Forever Young, merupakan beberapa nama yang banyak dikenal oleh masyarakat.
Khusus untuk model pemasaran MLM ini, di Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dahsyat, serta terbukti menjadi salah satu industri yang turut menjadi pilar perekonomian yang patut diperhitungkan. Terbukti banyak pemasar yang sukses di bidang ini memulai dari nol, dan rata-rata mereka berusia di bawah 40 tahun. Nama-nama MLM seperti Tianshi, CNI, Sophie Martin, Amway, Forever Young, merupakan beberapa nama yang banyak dikenal oleh masyarakat.
3. Apa
saja yang termasuk Direct Selling?
Single
Level Marketing (Pemasaran Satu Tingkat), maksudnya adalah : Metode
pemasaran barang atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran
berbentuk satu tingkat, yang mana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus
penjualan dari hasil penjualan barang atau jasa yang dilakukannya sendiri.
Multi Level Marketing
(Pemasaran Multi Tingkat), maksudnya adalah : Metode pemasaran barang atau jasa
dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk lebih dari
satu tingkat, yang mana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus
penjualan dari hasil penjualan barang atau jasa yang dilakukannya sendiri dan
anggota jaringan di dalam kelompoknya.
4. Bagaimana
kita mengetahui perusahaan yang melakukan penjualan langsung dengan benar?
· Mitra usaha hanya boleh membeli
keanggotaan dari perusahaan satu kali saja.
· Perusahaan tidak boleh memberikan keuntungan
kepada mitra usaha hanya atas hasil rekrut anggota baru.
· Di perusahaan, harus ada barang
atau jasa yang diperdagangkan dan dipergunakan oleh konsumen.
· Barang tidak dipergunakan sekedar sebagai
kedok, yang akan terlihat bila barangnya dijual dengan harga yang tidak wajar.
· Keuntungan atau laba yang diperoleh anggota
adalah terutama berdasarkan penjualan barang atau jasa kepada konsumen, bukan
dari rekruting anggota baru.
· Ada pelatihan tentang pengetahuan
produk dan cara menjual kepada mitra usaha.
· Ada buy back guarantee (jaminan
beli kembali setelah diperhitungkan semua biaya-biaya terkait) dari perusahaan
atas produk atau inventory yang masih layak jual milik anggota bila anggota
mengundurkan diri dari perusahaan.
5. Bagaimana
perbedaan dan persamaan direct selling dan sistem piramida?
a. Perbedaan
|
DIRECT SELLING
|
PYRAMID SYSTEM
|
|
|
1.
|
Sudah dimasyarakatkan dan diterima hampir di seluruh
dunia.
|
Sudah banyak negara yang melarang dan menindak
perusahaan dengan sistem ini, bahkan ada pengusahanya yang ditangkap pihak
yang berwajib.
|
|
2.
|
Berhasil meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan para
anggotanya dari level atas sampai level bawah.
|
Hanya menguntungkan bagi orang-orang yang pertama atau
bergabung lebih dahulu sebagai anggota atas kerugian yang menimpa pendaftar
yang bergabung belakangan.
|
|
3.
|
Keuntungan dan keberhasilan Mitra Usaha ditentukan dari
hasil kerja dalam bentuk melakukan penjualan/ pembelian produk maupun jasa
yang bernilai dari perusahaan serta memiliki manfaat/ bernilai guna untuk
konsumen maupun masyarakat banyak.
|
Keuntungan/ keberhasilan anggota ditentukan dari
seberapa banyak orang yang direkrut yang menyetorkan sejumlah uang sampai
terbentuk satu format Piramida.
|
|
4.
|
Setiap orang hanya berhak menjadi Mitra Usaha sebanyak
SATU KALI saja.
|
Setiap orang boleh menjadi anggota berkali-kali dalam
satu waktu tertentu, menjadi anggota disebut dengan membeli KAVLING. Jadi,
setiap orang boleh membeli beberapa kavling.
|
|
5.
|
Biaya pendaftaran keanggotaan tidak terlalu mahal,
masuk akal dan imbalannya adalah Starter Kit/ Starter Package (Paket Pemula)
yang senilai. Biaya pendaftaran tidak dimaksudkan untuk memaksakan pembelian
produk dan bukan alat untuk mencari keuntungan bagi perusahaan.
|
Biaya pendaftaran anggota tidak wajar dan sangat
tinggi. Biasanya disertai dengan produk-produk yang jika dihitung harganya
menjadi sangat mahal (tidak sesuai dengan produk sejenis yang ada di
pasaran). Jika seorang anggota lebih banyak merekrut orang lain, maka barulah
ybs mendapatkan keuntungan, dengan kata lain keuntungan didapat dengan
merekrut lebih banyak anggota, bukan dengan penjualan yang lebih banyak.
|
|
6.
|
Keuntungan yang didapat Mitra Usaha dihitung
berdasarkan hasil penjualan dari setiap anggota jaringannya.
|
Keuntungan yang didapat anggota dihitung berdasarkan
sistem perekrutan sampai terbentuk format tertentu.
|
|
7.
|
Jumlah orang yang direkrut anggota tidak dibatasi,
tetapi dianjurkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
|
Jumlah anggota yang direkrut dibatasi. Jika ingin
merekrut lebih banyak lagi, ybs harus menjadi anggota (membeli kavling) lagi.
|
|
8.
|
Setiap Mitra Usaha sangat tidak dianjurkan bahkan
dilarang menumpuk barang (Inventory Loading) karena di dalam penjualan
langsung yang terpenting adalah produk yang dibeli bisa dipakai dan dirasakan
manfaat/ kegunaannya oleh konsumen.
|
Setiap anggota dianjurkan untuk menjadi anggota
berkali-kali dimana setiap kali menjadi anggota harus membeli produk dengan
harga yang tidak masuk akal. Hal ini menyebabkan banyak sekali anggota yang
menimbun barang dan tidak dipakai.
|
|
9.
|
Program pembinaan Mitra Usaha sangat diperlukan agar
didapat anggota yang berkualitas tinggi.
|
Tidak ada program pembinaan apapun juga, karena yang
diperlukan hanya perekrutan saja.
|
|
10.
|
Pelatihan produk menjadi hal yang sangat penting,
karena produk harus dijual sampai ke tangan konsumen.
|
Tidak ada pelatihan produk, sebab komoditas hanyalah
perekrutan keanggotaan. Produk dalam sistem ini hanyalah bersifat sebagai
kedok saja.
|
|
11.
|
Setiap upline sangat berkepentingan dengan meningkatnya
kualitas dari para Downline-nya, kesuksesan seorang Mitra Usaha dapat terjadi
jika Downline-nya berhasil dan sukses. Keberhasilan Upline ikut ditentukan
dari keberhasilan downline.
|
Para upline hanya mementingkan perekrutan orang baru
saja. Apakah downline berhasil atau tidak, bukanlah merupakan perhatian dari
upline.
|
|
12.
|
Merupakan salah satu peluang berusaha yang baik dimana
setiap Mitra Usaha harus terus melakukan pembinaan pengembangan penjualan/
pemasaran untuk jaringannya. Tidak bisa hanya menunggu.
|
Bukan merupakan suatu peluang usaha, karena yang
dilakukan lebih menyerupai untung-untungan, dimana yang perlu dilakukan
hanyalah membeli kavling dan selanjutnya hanyalah menunggu.
|
b. Persamaan
Dalam
dunia penjualan langsung, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional,
terdapat 3 sistem yang telah berjalan sangat lama, yaitu sistem konvensional
atau Single Level Marketing (termasuk party plan), sistem Limited Level dan
sistem Multi Level atau Multi Level Marketing.
· Semuanya sama-sama membuka peluang berpenghasilan bagi
siapa saja yang mau berusaha berdasarkan kerjasama kemitraan.
· Landasan bisnisnya sama-sama terdiri dari 3 hal, yaitu
merekrut, mendidik, dan memotivasi para mitra usaha yang lazim disebut
Distributor atau Dealer. Semuanya sama-sama mengenakan biaya pendaftaran
keanggotaan kepada para Distributor/Dealernya dengan nilai yang pantas sesuai
dengan starter kit yang diperoleh.
· Semuanya sama-sama memiliki sejumlah produk (barang
atau jasa) dengan harga yang masuk akal untuk dijual melalui para
Distributor/Dealer sampai ke tangan konsumen. Berdasarkan volume penjualan yang
dicapai, para Distributor/Dealer memperoleh imbalan berupa komisi beserta insentif dan
berbagai hadiah yang menarik yang jumlah dan besarnya tidak terbatas.
· Semuanya sama-sama memberlakukan sistem yang
mana seorang anggota hanya mendapatkan
satu keanggotaan dan tidak boleh lebih.
· Bagi Distributor/Dealer yang aktif bekerja
peluang berpenghasilan sudah pasti ada.
· Program pemasaran (Marketing Plan) sederhana
dan transparan.
v
INFORMASI PENTING DARI
APLI - MASYARAKAT HARUS BERHATI-HATI DENGAN SISTEM PIRAMIDA
a.
Sistem Piramida Perlu
Diwaspadai!
Di Indonesia saat ini telah berkembang Penjualan Langsung
melalui Sistim Piramida. Sistem Piramida ini secara sepintas mirip menyerupai
Multi Level Marketing (MLM) dan cukup banyak orang telah melibatkan diri
sebagai anggota. Lebih tepat Sistem Piramida ini dikatakan berkedok Multi Level
Marketing.
Sistem Piramida, yang menawarkan kesempatan untuk
mendapatkan keuntungan besar dengan sedikit usaha, sebenarnya telah pula
dijalankan di Taiwan, Amerika Serikat, Malaysia dan lain-lain negara, tetapi
sehubungan dengan banyaknya pengaduan dari para anggotanya, kini di
negara-negara tersebut sistem ini diawasi secara ketat oleh Pemerintah setempat
karena dianggap merugikan dan meresahkan masyarakat luas. Diantara perusahaan-perusahaan
tersebut banyak pula yang telah ditutup.
b.
Aturan Sistem Piramida
· Biaya Pendaftaran keanggotaan berikut paket produk,
sangat mahal.
· Harga jual produk-produknya juga tidak wajar
dan sangat tinggi, ada yang bisa mencapai lebih dari 10 kali lipat harga produk
sejenis dipasaran.
· Sistem
dilakukan menyerupai Multi Level Marketing, tetapi tidak sama.
· Misalnya masing-masing anggota
dibatasi hanya boleh merekrut maksimum 2 orang. 2 orang tersebut, rekrut dua orang lain lagi
dan seterusnya hingga terbentuk satu piramida juga cara-cara lain yang mirip
cara ini, misalnya merekrut max. 3, 4, 5 anggota.
· Satu orang anggota boleh membeli lebih dari 1
keanggotaan (disebut kavling).
· Imbalan diberikan berdasarkan
tersusunnya satu jaringan berbentuk piramida
dengan jumlah orang dalam format tertentu; imbalan bukan berdasarkan presentasi
atas volume penjualan dan tidak ada unsur harus memasarkan produk sampai kepada
konsumen.
· Masa keanggotaan kadangkala berlangsung sangat singkat
(hanya sampai dengan terbentuknya suatu format tertentu). Berbeda dengan
perusahaan penjualan langsung, dimana anggota dapat aktif minimal 1 tahun atau
bahkan seumur hidup.
· Program pemasaran (Marketing Plan) skema piramida
sangat rumit dan susah dipelajari. Titik berat pada perekrutan, bukan pada
proses penjualan/ pemasaran.
B.
Usaha yang Menggunakan
Pola Direct Selling
Profil Usaha Nu Skin

Kany Virgo Soemantoro
President Nu Skin Indonesia dan Filipina
Tingginya animo masyarakat untuk tampil
awet muda membuat perusahaan kosmetik berlomba menawarkan solusi antiaging.
Antar satu produk saling menyalip dan mengintai posisi serta perkembangan
kompetitornya. Satu nama yang layak disebut adalah Nu Skin. Di tengah derasnya
persaingan industri estetika, nama ini tiba-tiba muncul ke permukaan dengan
gebrakan pertumbuhan sebesar lebih dari 70%.
Kany Virgo Soemantoro, lelaki parlente
bertutur bahasa persuasif yang memegang peran penting di Nu Skin Enterprises Inc, perusahaan direct selling berkapasitas
global yang kini sudah merambah regional Asia. Kany sendiri kini dipercaya
sebagai President Nu Skin Indonesia dan Filipina sejak Mei 2012. Sebelum
memangku jabatan tersebut, lulusan S1 Arsitektur, Universitas Trisakti, Jakarta
dan S2 Administrasi Bisnis, Baldwin Wallace Colege, Ohio, AS ini sempat
berkarier di luar Nu Skin.
Pria berusia 45 tahun ini sebelumnya pernah memimpin
Scholastic-Grolier Indonesia sebagai General Manager, di Oriflame Indonesia
sebagai Head Of Sales and Marketing Departement, serta Procon Indah sebagai
Property Manager. Sementara di Nu Skin, jabatannya berjenjang mulai dari Senior
Manager Sales and Business Development, Director Distributor Succes &
Market Operation, hingga yang terakhir kini President Nu Skin Indonesia dan
Filipina.
Di bawah kepemimpinannya, Nu Skin
Indonesia mencatat pertumbuhan yang sangat pesat sejak 2008 dengan
produk-produk andalannya seperti Galvanic Spa, g3, LifePak, dan yang terbaru
rangkaian antiaging ageLOC Transformation. Lantas bagaimana
pencapaian-pencapaiannya sebagai salah satu petinggi Nu Skin? Berikut reportase
Swa Online tentang debutnya :
·
Apa keunggulan Nu Skin?
Kalau kita perhatikan sekarang, memang
banyak sekali perusahaan yang fokus pada pengembangan produk antiaging. Nu Skin
sendiri fokus pada dua hal. Antiaging itu bukan hanya sekedar tampilan. Tapi
lebih kepada antiaging yang bersifat inside dan outside. Kami mempengaruhi
setiap orang bahwa jika di dalam tubuhnya sehat, maka di luarnya pun harusnya
lebih sehat lagi. Jadi inside-outside ini tergambar dari produk-produk kami
seperti Galvanic (produk yang cukup laku di Indonesia), True Face Ultra, dll.
·
Pasarnya menyasar ke mana?
Pasar yang kami masuki mungkin Anda
sudah tahu semua. Kita akan tua, itu pasti. Tapi pertanyaannya adalah
kadang-kadang kita tua tapi tidak ingin terlihat tua. Alamiah sekali bahwa tua
itu kejadian. Tapi yang selalu kami usahakan adalah bahwa walaupun sudah tua, tetapi
harus tetap sehat dan fresh. Dan pasar ini besar sekali. Apalagi setelah baby
boom, banyak sekali usia-usia 50-an yang merasa kebutuhan untuk sehat dan
tampil lebih muda lagi adalah penting sekali sehingga minatnya makin tinggi. Di
AS sendiri sudah ada sekitar 70%. Kalau kita lihat ke Asia Pasifik termasuk
Indonesia, pertumbuhannya sudah mencapai 82%.
Anda bisa lihat, di baby boom (tahun
2020), akan diprediksi bahwa mereka yang umurnya 35 tahun akan lebih banyak
dari jumlah anak-anak. Kalau dulu, mungkin yang paling terkenal adalah filosofi
banyak anak, banyak rezeki. Tapi sekarang, di China sendiri, kalau sudah punya
anak satu, itu masih free, tapi kalau sudah yang kedua, ketiga, dan seterusnya,
mereka bisa kena denda. Jadi memang ada pengetatan kelahiran.
Sebagai cosmetic direct selling
companies, Nu Skin merupakan produk yang baru naik namanya.
·
Bagaimana kinerja pertumbuhannya?
Tahun lalu Nu Skin Indonesia membukukan
keuangan Rp 350 miliar dalam setahun. Dengan angka sebesar itu, posisi kami
untuk direct selling personal care atau direct selling secara keseluruhan, berada di peringkat ke-6.
Kami menjadi perusahaan direct selling dengan pertumbuhan tercepat di seluruh
Indonesia.
Memang kami belum menjadi yang terbesar,
tapi kami termasuk yang terpesat. Perusahaan lain belum ada yang pertumbuhannya
bisa mencapai lebih dari 50%. Sementara tahun lalu, kami lebih dari 70%. Hal
tersebut didapat setelah kami meluncurkan produk baru bernama R-Squared pada
tahun lalu. Produk ini untuk stamina yang kalau dilihat dari hasil
penelitiannya berhubungan dengan aktifitas mereset gen (sel-sel muda direset
kembali). Dan memang itu yang membuat pertumbuhan penjualan kami di tahun
kemarin luar biasa besarnya.
·
Setelah mencapai tujuan, apa target
selanjutnya?
Target kami di tahun ini tentu naik dari
Rp 350 miliar ke 500 miliar. Pertanyaannya adalah bisakan angka tersebut
tercapai? Kalau kami lihat dari pertumbuhan yang sekarang, kemungkinan besar,
InsyaAllah tercapai. Sejak kami buka officially yang ada di Indonesia sampai
2012 kemarin, selama 5 tahun berturut-turut kami tumbuh lumayan. Memang dari
tahun 2005, ketika pembukaan, kami sedikit adjust pasar, mencoba mengerti
pasar, mencoba mengenalkan pada pasar, sampai di tahun 2008, kami benar-benar
take off.
Kalau kami cermati, rasanya pencapaian 2
quarter berturut-turut ini luar biasa pesat. Kalau hanya sekali-dua kali
tumbuh, mungkin kebetulan. Tapi kalau sudah 5 kali berturut-turut tumbuh,
mungkin bukan pertumbuhan lagi, tapi memang sudah tren. Seperti yang kita tahu,
tren antiaging ini sekarang memang
sedang berkembang luar biasa. Dibandingkan di regional, pertumbuhan kami 29%
dari sisi penjualannya. Di Malaysia sendiri 30%. Ini memang pertumbuhan total
di luar produk baru yang kemarin kami luncurkan. Kami hanya ingin lihat apakah
tanpa produk baru kami masih tumbuh. Pada kenyataannya iya. Di luar produk
baru, pertumbuhan Nu Skin masih lumayan besar yaitu 42%.
Dilihat range-nya, kami punya
pertumbuhan yang sangat signifikan, bahkan semenjak 5 bulan ke belakan, kami
sudah 45% dibandingkan 5 bulan di tahun lalu. Secara porsi, Indonesia 11%
dibandingkan regional yang ada di Asia Tenggara. Target kami 5 tahun ke depan,
melihat potensi pasar Indonesia yang demikian besar, harusnya bisa lebih dari
11%, mungkin bisa sampai 25%.
·
Berapa jumlah agen Nu Skin yang sudah
tersebar di seluruh Indonesia saat ini?
Jumlah distributor/independent agen yang
membantu memasarkan produk sudah ada 145 ribu orang. Tapi yang benar-benar
menjalankan setiap bulannya ada sekitar 15 ribu orang. Mereka aktif melakukan
aktivitas bisnis. Selama kurun waktu 7 tahun, kami sudah menciptakan suatu
sejarah. Karena di dalam pertumbuhan yang seperti itu, banyak hal yang bisa
kami lakukan di Indonesia. Pertama, Nu Skin Indonesia merupakan negara yang
tumbuh paling cepat, dibanding negara yang lain yang ada di Asia Tenggara.
Kedua, sudah ada dua distributor kami yang mempunyai penghasilan sebesar US$ 1
juta. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp 10 miliar. Luar biasa besar. Mungkin
dalam kurun waktu 2 tahun ke depan, akan bermunculan lagi mereka-mereka yang
berpenghasilan di atas US$ 1 juta.
·
Apa saja proyek-proyek Nu Skin di luar
jualan produk?
Proyek-proyek yang sudah kami jalankan
adalah Force For Good, dalam arti bukan CSR saja, tapi misi tugas kami
benar-benar force for good, kekuatan untuk kebaikan. Sejak pertengahan 2010,
kami bekerja sama dengan Yayasan Jantung Anak Indonesia di RSCM, dimana kami
melihat bahwa di sana banyak anak-anak dengan jantung bawaan, tapi mereka
tidak punya dana. Memang yang namanya
jantung itu mahal sekali. Untuk operasi saja bisa dibutuhkan sekitar 50-70 juta.
Sementara banyak perusahaan-perusahaan lain yang membantu fasilitas kesehatan
tapi biasanya untuk operasi-operasi skala besar, seperti sumbing segala macam.
Sementara untuk jantung, jarang perusahaan yang fokus ke arah seperti itu karena sangat mahal. Untuk Rp 100 juta saja,
mungkin hanya dua anak yang bisa tertolong. Begitu melihat kondisi tersebut,
merangkul Yayasan Jantung Anak Indonesia hingga sekarang sebanyak 37 anak sudah
bisa kami bantu. Bahkan tahun ini kami berkomitmen kepada yayasan akan bantu
lagi sebanyak Rp 1 miliar selama 1 tahun ini. Jadi mudah-mudahan lebih banyak
lagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan jantung bawaan bisa kami tolong agar
sehat kembali.
Kami juga bekerja sama dengan Butet
membangun community school di Flores. Sistemnya adalah kami didik sejumlah anak
untuk beberapa tahun. Setelah anak-anaknya bisa mendidik, baru kami lepas. Dan
sekarang sudah muter. Yang dididik jadi pendidik, begitu seterusnya. Yang
mendidik lagi jadi pendidik lagi di sekolah itu. Sekolah-sekolah lainnya juga
kami bangun, seperti waktu ada gempa Yogya, kemudian yang terakhir di Padang.
Jadi kami bangun lagi, kami sediakan fasilitasnya, dll. Itu sebetulnya proyek
ekonomi. Sejak tahun 2005 bahkan sebelum Nu Skin ada, proyek ini sudah ada di
Indonesia.
Kami juga membantu penelitian di Laut
Banda dan Papua, kemudian waktu Tsunami Aceh 2004, kami sudah provide makanan
kesehatan. Jadi kalau biasanya orang kirim makanan instan yang hanya bikin
kenyang, sehingga setelah kenyang timbul penyakit, maka yang kami lakukan
adalah memberikan makanan sehat penuh nutrisi.
·
Apa lagi target dan rencana Nu Skin ke
depan?
Tahun ini, kalau Rp500 miliar nyaris
kejadian. Bukan lagi mimpi. Dengan Rp500 miliar, kami bermimpi bisa membantu
200 anak lagi di proyek Force For Good tadi. Karena terus terang berdasarkan
info dari yayasan yang menjadi partner kami, itu masih banyak sekali yang
membutuhkan bantuan. Karena memang jantung bawaan itu bukan hal yang murah.
Jadi setiap agen berkomitmen agar setiap bulannya, mereka dapat menyisihkan 1 %
dari komisinya ke yayasan. Sekarang total sudah hampir 1000 agen yang
berkomitmen agar 1% komisinya masuk ke Yayasan Jantung Indonesia. Jadi
mudah-mudahan ini makin besar.
·
Kalau rencana penerapan teknologi
terbaru produk akan ada apa lagi?
Pertumbuhan Nu Skin tidak terlepas dari
inovasi produk-produk terbarunya. Kami sudah merencanakan bahwa di tahun 2013,
kami sudah punya ageLOC® Tru Face Essence Ultra. Kemudian di tahun berikutnya akan ada produk-produk
lainnya yang menggunakan teknologi ageLOC® yang benar-benar menarget tentang
sel-sel pemudaan.
Di Indonesia, produk-produk dengan teknologi ageLOC seperti
ageLOC Galvanic R-Squared, dll itu sejak 2010 sudah terjual lebih dari Rp 400
miliar. Jadi cukup signifikan, demandnya tinggi serta masyarakat willing to pay.
Saat ini kami ada convention, bagaimana kami benar-benar melakukan bisnis di
Indonesia bukan hanya sekedar jual produk, tapi juga visi Force for Good. Itu
menjadi tanggung jawab kami di samping customer kami mendapatkan sesuatu,
masyarakat sekitar pun bisa kami bantu dengan bergulirnya bisnis ini. Salah
satu yang kami terapkan di convention ini adalah expo dimana kami ada banyak
produk-produk demo. Kami harus terus create history. Sekian persen kami tumbuh,
sekian persen kami sisihkan untuk mereka yang membutuhkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Direct
Selling adalah penjualan produk konsumen atau jasa, orang-ke-orang, jauh dari
lokasi eceran tetap, dipasarkan melalui perwakilan penjualan independen yang
kadang-kadang juga disebut sebagai konsultan, distributor atau judul lainnya. Penjual langsung tidak karyawan
perusahaan. Mereka adalah kontraktor
independen yang memasarkan dan menjual produk atau jasa perusahaan dengan
imbalan komisi penjualan tersebut.
B. Saran
Direct Selling adalah pola penjualan yang sangat efisien ,maka
dari itu perusahaan yang menggunakan pola direct selling sebaiknya dikembangkan
secara terus-menerus untuk menuju hasil yang lebih baik.
Posting Komentar