BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

Direct Selling/penjualan langsung adalah cara memasarkan produk maupun jasa langsung kepada pelanggan langsung, yaitu secara temu muka. Temu muka ini umumnya berlangsung di rumah pelanggan atau di rumah teman, atau, tempat lain di luar lokasi pengecer. Direct Selling ini sudah banyak diterapkan oleh pengusaha-pengusaha untuk mengawali proses karier atau usaha yang mereka lakukan.
Direct selling modern mencakup penjualan yang dilakukan melalui rencana penjualan perpartai, demonstrasi, dan pengaturan kontak pribadi serta penjualan internet. Definisi buku teks menjajakan (peddling) adalah: “presentasi pribadi langsung, demonstrasi, dan penjualan produk dan layanan kepada konsumen, biasanya di rumah mereka atau di lokasi kerja mereka.”
Dalam sejarah bisnis ini, direct selling dalam bentuknya yang sekarang (dianggap) pertama kali muncul dengan beroperasinya The California Perfume Company di New York tahun 1886 yang didirikan oleh Dave McConnel. McConnell inilah yang memiliki ide mempekerjakan Mrs. Albee sebagai California Perfume Lady yang pertama dengan cara menjual langsung kepada konsumen dari rumah ke rumah. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Avon pada tahun 1939, sementara Mrs. Albee sendiri dianggap sebagai pioneer metode penjualan direct selling. Kemudian Nutrilite tahun 1934 di California dengan metode penjualan baru, yaitu memberi komisi tambahan pada distributor independen yang berhasil merekrut, melatih, dan membantu anggota baru itu untuk ikut menjual produk. Metode baru ini memungkinkan seorang distributor terus merekrut anggota baru dengan kedalaman dan keluasan yang tidak terbatas. Berikutnya tahun 1956 berdiri Shaklee dan tahun 1959 berdiri Amway dengan metode penjualan

yang sama, yang kemudian lebih dikenal dengan metode penjualan multi level marketing.
Federasi Dunia Asosiasi Penjualan Langsung (WFDSA), melaporkan bahwa asosiasi yang anggotanya meliputi 59 daerah menyumbang lebih dari US $114 Miliar pada penjualan ritel di tahun 2007, melalui kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari 62 juta perwakilan penjualan independen. Direct Selling Association (DSA) Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2000, 55% orang dewasa Amerika pada beberapa waktu pembelian barang atau jasa dari seorang wakil penjualan langsung dan 20% melaporkan bahwa mereka saat ini (6%) atau berada di masa lalu ( 14%) melakukan pembelian pada perwakilan penjualan langsung.

B.       Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul makalah ini “Direct Selling”. Maka makalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1.        Pengertian Direct Selling
2.        Apa saja tipe-tipe dasar Direct Selling ?
3.        Apa saja yang termasuk Direct Selling?
4.        Bagaimana kita mengetahui perusahaan yang melakukan penjualan langsung dengan  benar?
5.        Bagaimana perbedaan dan persamaan direct selling dan sistem piramida?

C.   Tujuan masalah
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah ruang lingkup Direct Selling.








BAB II
PEMBAHASAN

A.      STUDY LITURAL
Penjualan langsung adalah pemasaran dan penjualan produk langsung ke konsumen menjauh dari lokasi eceran tetap. menjajakan adalah bentuk tertua dari penjualan langsung.  direct selling modern mencakup penjualan yang dilakukan melalui rencana partai , satu-satu demonstrasi, dan pengaturan kontak pribadi lainnya serta penjualan internet. Sebuah definisi buku teks adalah: "Presentasi langsung pribadi, demonstrasi, dan penjualan produk dan layanan kepada konsumen, biasanya di rumah mereka atau pekerjaan mereka"
Seperti beberapa bidang yang menggunakan pola Direct Selling misalnya: Tupperware Corporation yang berpusat di Orlando Amerika Serikat adalah perusahaan multinasional yang memproduksi serta memasarkan produk plastik berkualitas untuk keperluan rumah tangga. Dengan sistem penjualan langsung (direct selling), Tupperware berkembang dan berada di lebih dari 100 negara.  Di banyak Negara, di antara perusahaan direct selling lain Tupperware berhasil menempati ranking atas.
Berkat penemuannya yang gemilang tahun 1937 di Amerika & dikembangkan tahun 1946, Earl Tupper melahirkan berbagai produk innovatif bermerek Tupperware. Kehadirannya mempermudah dan memperindah kehidupan para ibu rumah tangga di Amerika.
Home party Tupperware yang dikenal sebagai Tupperware Party adalah cara penjualan yang unik, informatif dan menghibur. Cara ini pertama kali diperkenalkan oleh Brownie Wise.
Kejeliannya memanfaatkan teknologi membuat Tupperware tanggap dengan berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat. Tupperware selalu melahirkan produk baru berkualitas yang innovatif, berdesain unik.

Bahan yang digunakanpun berkualitas terbaik, aman bagi kesehatan serta ramah lingkungan. Sesuai dengan komitmennya dalam memberi kepuasan maksimal kepada semua pencinta dan penggunanya, Tupperware tak ragu untuk memberikan garansi seumur hidup (sesuai pemakaian normal).
Secara resmi Tupperware dipasarkan di Indonesia tahun 1991. PT. Alif Rose di Jakarta merupakan distributor resmi pertama Tupperware, dan kini sudah lebih dari 70 Distributor resmi yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Didukung lebih dari 170.000 tenaga penjual independen, produk Tupperware berhasil menembus berbagai kalangan. Pelatihan dan bimbingan yang diberikan merupakan bekal untuk menjadi tenaga penjual yang tangguh. Meski terdiri dari berbagai latar belakang ekonomi dan pendidikan, namun ada satu persamaannya yaitu bisa menyisihkan waktu untuk keluarga, sekaligus memiliki karir dan penghasilan yang sangat memuaskan.
Visi Tupperware Indonesia adalah menjadi Company of Choice dan Brand of Choice.  Sedangkan misinya adalah merubah hidup lebih banyak orang menjadi lebih baik lagi.

1.       Apa itu Direct Selling (Penjualan Langsung)?
Direct Selling (Penjualan Langsung) adalah :
Metode penjualan barang atau jasa tertentu kepada konsumen dengan cara tatap muka di luar lokasi eceran tetap oleh jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh mitra usaha dan bekerja berdasarkan komisi penjualan, bonus penjualan dan iuran keanggotaan yang wajar.
2.       Apa saja tipe-tipe dasar Direct Selling ?
Tiga Tipe Dasar Direct Selling ada 3, yaitu :
·         One on One, dalam sistem ini seorang penjual, yang merupakan agen/anggota/kontraktor yang mandiri atau lepas, menarik konsumen yang berpotensi di area khusus berdasarkan pendekatan orang ke orang. Mereka menawarkan produk, serta mendapat komisi atau basis lain. Pendapatan mereka dapat juga diperoleh dari selisih harga pembelian ke supplier dan penjualan ke konsumen. Cara ini sering digunakan oleh para member broker/marketing associate suatu agen properti (ERA, Lj. Hooker, Coldwell Banker, dll), dan para agen asuransi (Prudential, Sequis Life, Jiwasraya, dll).

·         Party Plan, pada metode seorang penjual, karyawan lepas atau tetap, bertugas mencari atau menjadi tuan rumah yang mengundang sekelompok orang di rumahnya dalam rangka sales party untuk mendemonstrasikan produk. Penghasilan si penjual juga atas dasar selisih harga eceran. Si tuan rumah biasanya diberikan hadiah sebagai tanda terima kasih sesuai dengan nilai penjualan tertentu. Model ini sering digunakan oleh distributor peralatan rumah tangga, kosmetika, minuman kesehatan, dan nutrisi kesehatan. PT. Imawi Benjaya, yang mengusung merek Tupperware dengan produk kemasan plastik, merupakan salah satu dari perusahaan yang sukses dan cukup terkenal di kalangan ibu-ibu rumah tangga, di dalam menerapkan metode penjualan ini.

·         Multilevel Marketing (MLM) atau System Networking, adalah penjualan secara bertingkat dari distributor mandiri yang memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan dalam dua cara. Pertama, penjualan produk langsung ke konsumen. Kedua, distributor bisa menerima potongan harga atas dasar jumlah produk/jasa yang dibeli oleh anggota kelompok bisnis untuk penjualan atau pemakaian, termasuk jumlah penjualan pribadi. Atau dalam arti lain, MLM atau Network Marketing adalah kegiatan mendistribusikan, menjual atau menyuplai produk/jasa melalui individu yang ditunjuk sebagai agen atau distributor. Agen ini dibayar dalam bentuk komisi, diskon, bonus dan reward lainnya, berdasarkan jumlah penjualan dan kemampuannya merekrut agen. Perekrut disebut upline, sedangkan yang direkrut disebut downline. Dalam sistem MLM, upline juga mendapatkan reward dari besarnya penjualan downline yang berada di bawahnya langsung, dan penjualan downline tidak langsung (yang levelnya berada dua tingkat atau lebih di bawahnya).
Khusus untuk model pemasaran MLM ini, di Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dahsyat, serta terbukti menjadi salah satu industri yang turut menjadi pilar perekonomian yang patut diperhitungkan. Terbukti banyak pemasar yang sukses di bidang ini memulai dari nol, dan rata-rata mereka berusia di bawah 40 tahun. Nama-nama MLM seperti Tianshi, CNI, Sophie Martin, Amway, Forever Young, merupakan beberapa nama yang banyak dikenal oleh masyarakat.

3.       Apa saja yang termasuk Direct Selling?
      Single Level Marketing (Pemasaran Satu Tingkat), maksudnya adalah : Metode pemasaran barang atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk satu tingkat, yang mana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang atau jasa yang dilakukannya sendiri.
Multi Level Marketing (Pemasaran Multi Tingkat), maksudnya adalah : Metode pemasaran barang atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk lebih dari satu tingkat, yang mana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang atau jasa yang dilakukannya sendiri dan anggota jaringan di dalam kelompoknya.

4.       Bagaimana kita mengetahui perusahaan yang melakukan penjualan langsung dengan benar?
· Mitra usaha hanya boleh membeli keanggotaan dari perusahaan satu kali  saja.
·  Perusahaan tidak boleh memberikan keuntungan kepada mitra usaha hanya atas hasil rekrut anggota baru.
· Di perusahaan, harus ada barang atau jasa yang diperdagangkan dan dipergunakan oleh konsumen.
·  Barang tidak dipergunakan sekedar sebagai kedok, yang akan terlihat bila barangnya  dijual dengan harga yang tidak wajar.
·  Keuntungan atau laba yang diperoleh anggota adalah terutama berdasarkan penjualan barang atau jasa kepada konsumen, bukan dari rekruting anggota baru.
· Ada pelatihan tentang pengetahuan produk dan cara menjual kepada mitra usaha.
· Ada buy back guarantee (jaminan beli kembali setelah diperhitungkan semua biaya-biaya terkait) dari perusahaan atas produk atau inventory yang masih layak jual milik anggota bila anggota mengundurkan diri dari perusahaan.

5.       Bagaimana perbedaan dan persamaan direct selling dan sistem piramida?
          a. Perbedaan
DIRECT SELLING
PYRAMID SYSTEM
1.
Sudah dimasyarakatkan dan diterima hampir di seluruh dunia.
Sudah banyak negara yang melarang dan menindak perusahaan dengan sistem ini, bahkan ada pengusahanya yang ditangkap pihak yang berwajib.
2.
Berhasil meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan para anggotanya dari level atas sampai level bawah.
Hanya menguntungkan bagi orang-orang yang pertama atau bergabung lebih dahulu sebagai anggota atas kerugian yang menimpa pendaftar yang bergabung belakangan.
3.
Keuntungan dan keberhasilan Mitra Usaha ditentukan dari hasil kerja dalam bentuk melakukan penjualan/ pembelian produk maupun jasa yang bernilai dari perusahaan serta memiliki manfaat/ bernilai guna untuk konsumen maupun masyarakat banyak.
Keuntungan/ keberhasilan anggota ditentukan dari seberapa banyak orang yang direkrut yang menyetorkan sejumlah uang sampai terbentuk satu format Piramida.
4.
Setiap orang hanya berhak menjadi Mitra Usaha sebanyak SATU KALI saja.
Setiap orang boleh menjadi anggota berkali-kali dalam satu waktu tertentu, menjadi anggota disebut dengan membeli KAVLING. Jadi, setiap orang boleh membeli beberapa kavling.
5.
Biaya pendaftaran keanggotaan tidak terlalu mahal, masuk akal dan imbalannya adalah Starter Kit/ Starter Package (Paket Pemula) yang senilai. Biaya pendaftaran tidak dimaksudkan untuk memaksakan pembelian produk dan bukan alat untuk mencari keuntungan bagi perusahaan.
Biaya pendaftaran anggota tidak wajar dan sangat tinggi. Biasanya disertai dengan produk-produk yang jika dihitung harganya menjadi sangat mahal (tidak sesuai dengan produk sejenis yang ada di pasaran). Jika seorang anggota lebih banyak merekrut orang lain, maka barulah ybs mendapatkan keuntungan, dengan kata lain keuntungan didapat dengan merekrut lebih banyak anggota, bukan dengan penjualan yang lebih banyak.
6.
Keuntungan yang didapat Mitra Usaha dihitung berdasarkan hasil penjualan dari setiap anggota jaringannya.
Keuntungan yang didapat anggota dihitung berdasarkan sistem perekrutan sampai terbentuk format tertentu.
7.
Jumlah orang yang direkrut anggota tidak dibatasi, tetapi dianjurkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Jumlah anggota yang direkrut dibatasi. Jika ingin merekrut lebih banyak lagi, ybs harus menjadi anggota (membeli kavling) lagi.
8.
Setiap Mitra Usaha sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang menumpuk barang (Inventory Loading) karena di dalam penjualan langsung yang terpenting adalah produk yang dibeli bisa dipakai dan dirasakan manfaat/ kegunaannya oleh konsumen.
Setiap anggota dianjurkan untuk menjadi anggota berkali-kali dimana setiap kali menjadi anggota harus membeli produk dengan harga yang tidak masuk akal. Hal ini menyebabkan banyak sekali anggota yang menimbun barang dan tidak dipakai.
9.
Program pembinaan Mitra Usaha sangat diperlukan agar didapat anggota yang berkualitas tinggi.
Tidak ada program pembinaan apapun juga, karena yang diperlukan hanya perekrutan saja.
10.
Pelatihan produk menjadi hal yang sangat penting, karena produk harus dijual sampai ke tangan konsumen.
Tidak ada pelatihan produk, sebab komoditas hanyalah perekrutan keanggotaan. Produk dalam sistem ini hanyalah bersifat sebagai kedok saja.
11.
Setiap upline sangat berkepentingan dengan meningkatnya kualitas dari para Downline-nya, kesuksesan seorang Mitra Usaha dapat terjadi jika Downline-nya berhasil dan sukses. Keberhasilan Upline ikut ditentukan dari keberhasilan downline.
Para upline hanya mementingkan perekrutan orang baru saja. Apakah downline berhasil atau tidak, bukanlah merupakan perhatian dari upline.
12.
Merupakan salah satu peluang berusaha yang baik dimana setiap Mitra Usaha harus terus melakukan pembinaan pengembangan penjualan/ pemasaran untuk jaringannya. Tidak bisa hanya menunggu.
Bukan merupakan suatu peluang usaha, karena yang dilakukan lebih menyerupai untung-untungan, dimana yang perlu dilakukan hanyalah membeli kavling dan selanjutnya hanyalah menunggu.

b. Persamaan
Dalam dunia penjualan langsung, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional, terdapat 3 sistem yang telah berjalan sangat lama, yaitu sistem konvensional atau Single Level Marketing (termasuk party plan), sistem Limited Level dan sistem Multi Level atau Multi Level Marketing.
· Semuanya sama-sama membuka peluang berpenghasilan bagi siapa saja yang mau berusaha berdasarkan kerjasama kemitraan.
· Landasan bisnisnya sama-sama terdiri dari 3 hal, yaitu merekrut, mendidik, dan memotivasi para mitra usaha yang lazim disebut Distributor atau Dealer. Semuanya sama-sama mengenakan biaya pendaftaran keanggotaan kepada para Distributor/Dealernya dengan nilai yang pantas sesuai dengan starter kit yang diperoleh.
· Semuanya sama-sama memiliki sejumlah produk (barang atau jasa) dengan harga yang masuk akal untuk dijual melalui para Distributor/Dealer sampai ke tangan konsumen. Berdasarkan volume penjualan yang dicapai, para Distributor/Dealer memperoleh imbalan berupa komisi beserta insentif dan berbagai hadiah yang menarik yang jumlah dan besarnya tidak terbatas.
·  Semuanya sama-sama memberlakukan sistem yang mana seorang anggota hanya  mendapatkan satu keanggotaan dan tidak boleh lebih.
·   Bagi Distributor/Dealer yang aktif bekerja peluang berpenghasilan sudah pasti  ada.
·   Program pemasaran (Marketing Plan) sederhana dan transparan.
v  INFORMASI PENTING DARI APLI - MASYARAKAT HARUS BERHATI-HATI DENGAN SISTEM PIRAMIDA

a.      Sistem Piramida Perlu Diwaspadai!
Di Indonesia saat ini telah berkembang Penjualan Langsung melalui Sistim Piramida. Sistem Piramida ini secara sepintas mirip menyerupai Multi Level Marketing (MLM) dan cukup banyak orang telah melibatkan diri sebagai anggota. Lebih tepat Sistem Piramida ini dikatakan berkedok Multi Level Marketing.
Sistem Piramida, yang menawarkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar dengan sedikit usaha, sebenarnya telah pula dijalankan di Taiwan, Amerika Serikat, Malaysia dan lain-lain negara, tetapi sehubungan dengan banyaknya pengaduan dari para anggotanya, kini di negara-negara tersebut sistem ini diawasi secara ketat oleh Pemerintah setempat karena dianggap merugikan dan meresahkan masyarakat luas. Diantara perusahaan-perusahaan tersebut banyak pula yang telah ditutup.
b.      Aturan Sistem Piramida
· Biaya Pendaftaran keanggotaan berikut paket produk, sangat mahal.
·  Harga jual produk-produknya juga tidak wajar dan sangat tinggi, ada yang bisa mencapai lebih dari 10 kali lipat harga produk sejenis dipasaran.
·   Sistem dilakukan menyerupai Multi Level Marketing, tetapi tidak sama.
· Misalnya masing-masing anggota dibatasi hanya boleh merekrut maksimum 2 orang.  2 orang tersebut, rekrut dua orang lain lagi dan seterusnya hingga terbentuk satu piramida juga cara-cara lain yang mirip cara ini, misalnya merekrut max. 3, 4, 5 anggota.
·  Satu orang anggota boleh membeli lebih dari 1 keanggotaan (disebut kavling).
· Imbalan diberikan berdasarkan tersusunnya satu jaringan berbentuk  piramida dengan jumlah orang dalam format tertentu; imbalan bukan berdasarkan presentasi atas volume penjualan dan tidak ada unsur harus memasarkan produk sampai kepada konsumen.
· Masa keanggotaan kadangkala berlangsung sangat singkat (hanya sampai dengan terbentuknya suatu format tertentu). Berbeda dengan perusahaan penjualan langsung, dimana anggota dapat aktif minimal 1 tahun atau bahkan seumur hidup.
· Program pemasaran (Marketing Plan) skema piramida sangat rumit dan susah dipelajari. Titik berat pada perekrutan, bukan pada proses penjualan/ pemasaran.

B.       Usaha yang Menggunakan Pola Direct Selling

Profil Usaha Nu Skin

Kany-Virgo-Nu-Skin1.jpg
Kany Virgo Soemantoro President Nu Skin Indonesia dan Filipina
Tingginya animo masyarakat untuk tampil awet muda membuat perusahaan kosmetik berlomba menawarkan solusi antiaging. Antar satu produk saling menyalip dan mengintai posisi serta perkembangan kompetitornya. Satu nama yang layak disebut adalah Nu Skin. Di tengah derasnya persaingan industri estetika, nama ini tiba-tiba muncul ke permukaan dengan gebrakan pertumbuhan sebesar lebih dari 70%.
Kany Virgo Soemantoro, lelaki parlente bertutur bahasa persuasif yang memegang peran penting di Nu Skin Enterprises Inc, perusahaan direct selling berkapasitas global yang kini sudah merambah regional Asia. Kany sendiri kini dipercaya sebagai President Nu Skin Indonesia dan Filipina sejak Mei 2012. Sebelum memangku jabatan tersebut, lulusan S1 Arsitektur, Universitas Trisakti, Jakarta dan S2 Administrasi Bisnis, Baldwin Wallace Colege, Ohio, AS ini sempat berkarier di luar Nu Skin.
Pria berusia  45 tahun ini sebelumnya pernah memimpin Scholastic-Grolier Indonesia sebagai General Manager, di Oriflame Indonesia sebagai Head Of Sales and Marketing Departement, serta Procon Indah sebagai Property Manager. Sementara di Nu Skin, jabatannya berjenjang mulai dari Senior Manager Sales and Business Development, Director Distributor Succes & Market Operation, hingga yang terakhir kini President Nu Skin Indonesia dan Filipina.
Di bawah kepemimpinannya, Nu Skin Indonesia mencatat pertumbuhan yang sangat pesat sejak 2008 dengan produk-produk andalannya seperti Galvanic Spa, g3, LifePak, dan yang terbaru rangkaian antiaging ageLOC Transformation. Lantas bagaimana pencapaian-pencapaiannya sebagai salah satu petinggi Nu Skin? Berikut reportase Swa Online tentang debutnya :
·         Apa keunggulan Nu Skin?
Kalau kita perhatikan sekarang, memang banyak sekali perusahaan yang fokus pada pengembangan produk antiaging. Nu Skin sendiri fokus pada dua hal. Antiaging itu bukan hanya sekedar tampilan. Tapi lebih kepada antiaging yang bersifat inside dan outside. Kami mempengaruhi setiap orang bahwa jika di dalam tubuhnya sehat, maka di luarnya pun harusnya lebih sehat lagi. Jadi inside-outside ini tergambar dari produk-produk kami seperti Galvanic (produk yang cukup laku di Indonesia), True Face Ultra, dll.
·         Pasarnya menyasar ke mana?
Pasar yang kami masuki mungkin Anda sudah tahu semua. Kita akan tua, itu pasti. Tapi pertanyaannya adalah kadang-kadang kita tua tapi tidak ingin terlihat tua. Alamiah sekali bahwa tua itu kejadian. Tapi yang selalu kami usahakan adalah bahwa walaupun sudah tua, tetapi harus tetap sehat dan fresh. Dan pasar ini besar sekali. Apalagi setelah baby boom, banyak sekali usia-usia 50-an yang merasa kebutuhan untuk sehat dan tampil lebih muda lagi adalah penting sekali sehingga minatnya makin tinggi. Di AS sendiri sudah ada sekitar 70%. Kalau kita lihat ke Asia Pasifik termasuk Indonesia, pertumbuhannya sudah mencapai 82%.
Anda bisa lihat, di baby boom (tahun 2020), akan diprediksi bahwa mereka yang umurnya 35 tahun akan lebih banyak dari jumlah anak-anak. Kalau dulu, mungkin yang paling terkenal adalah filosofi banyak anak, banyak rezeki. Tapi sekarang, di China sendiri, kalau sudah punya anak satu, itu masih free, tapi kalau sudah yang kedua, ketiga, dan seterusnya, mereka bisa kena denda. Jadi memang ada pengetatan kelahiran.
Sebagai cosmetic direct selling companies, Nu Skin merupakan produk yang baru naik namanya.
·         Bagaimana kinerja pertumbuhannya?
Tahun lalu Nu Skin Indonesia membukukan keuangan Rp 350 miliar dalam setahun. Dengan angka sebesar itu, posisi kami untuk direct selling personal care atau direct selling  secara keseluruhan, berada di peringkat ke-6. Kami menjadi perusahaan direct selling dengan pertumbuhan tercepat di seluruh Indonesia.
Memang kami belum menjadi yang terbesar, tapi kami termasuk yang terpesat. Perusahaan lain belum ada yang pertumbuhannya bisa mencapai lebih dari 50%. Sementara tahun lalu, kami lebih dari 70%. Hal tersebut didapat setelah kami meluncurkan produk baru bernama R-Squared pada tahun lalu. Produk ini untuk stamina yang kalau dilihat dari hasil penelitiannya berhubungan dengan aktifitas mereset gen (sel-sel muda direset kembali). Dan memang itu yang membuat pertumbuhan penjualan kami di tahun kemarin luar biasa besarnya.
·         Setelah mencapai tujuan, apa target selanjutnya?
Target kami di tahun ini tentu naik dari Rp 350 miliar ke 500 miliar. Pertanyaannya adalah bisakan angka tersebut tercapai? Kalau kami lihat dari pertumbuhan yang sekarang, kemungkinan besar, InsyaAllah tercapai. Sejak kami buka officially yang ada di Indonesia sampai 2012 kemarin, selama 5 tahun berturut-turut kami tumbuh lumayan. Memang dari tahun 2005, ketika pembukaan, kami sedikit adjust pasar, mencoba mengerti pasar, mencoba mengenalkan pada pasar, sampai di tahun 2008, kami benar-benar take off.
Kalau kami cermati, rasanya pencapaian 2 quarter berturut-turut ini luar biasa pesat. Kalau hanya sekali-dua kali tumbuh, mungkin kebetulan. Tapi kalau sudah 5 kali berturut-turut tumbuh, mungkin bukan pertumbuhan lagi, tapi memang sudah tren. Seperti yang kita tahu, tren antiaging ini  sekarang memang sedang berkembang luar biasa. Dibandingkan di regional, pertumbuhan kami 29% dari sisi penjualannya. Di Malaysia sendiri 30%. Ini memang pertumbuhan total di luar produk baru yang kemarin kami luncurkan. Kami hanya ingin lihat apakah tanpa produk baru kami masih tumbuh. Pada kenyataannya iya. Di luar produk baru, pertumbuhan Nu Skin masih lumayan besar yaitu 42%.
Dilihat range-nya, kami punya pertumbuhan yang sangat signifikan, bahkan semenjak 5 bulan ke belakan, kami sudah 45% dibandingkan 5 bulan di tahun lalu. Secara porsi, Indonesia 11% dibandingkan regional yang ada di Asia Tenggara. Target kami 5 tahun ke depan, melihat potensi pasar Indonesia yang demikian besar, harusnya bisa lebih dari 11%, mungkin bisa sampai 25%.
·         Berapa jumlah agen Nu Skin yang sudah tersebar di seluruh Indonesia saat ini?
Jumlah distributor/independent agen yang membantu memasarkan produk sudah ada 145 ribu orang. Tapi yang benar-benar menjalankan setiap bulannya ada sekitar 15 ribu orang. Mereka aktif melakukan aktivitas bisnis. Selama kurun waktu 7 tahun, kami sudah menciptakan suatu sejarah. Karena di dalam pertumbuhan yang seperti itu, banyak hal yang bisa kami lakukan di Indonesia. Pertama, Nu Skin Indonesia merupakan negara yang tumbuh paling cepat, dibanding negara yang lain yang ada di Asia Tenggara. Kedua, sudah ada dua distributor kami yang mempunyai penghasilan sebesar US$ 1 juta. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp 10 miliar. Luar biasa besar. Mungkin dalam kurun waktu 2 tahun ke depan, akan bermunculan lagi mereka-mereka yang berpenghasilan di atas US$ 1 juta.
·         Apa saja proyek-proyek Nu Skin di luar jualan produk?
Proyek-proyek yang sudah kami jalankan adalah Force For Good, dalam arti bukan CSR saja, tapi misi tugas kami benar-benar force for good, kekuatan untuk kebaikan. Sejak pertengahan 2010, kami bekerja sama dengan Yayasan Jantung Anak Indonesia di RSCM, dimana kami melihat bahwa di sana banyak anak-anak dengan jantung bawaan, tapi mereka tidak  punya dana. Memang yang namanya jantung itu mahal sekali. Untuk operasi saja bisa dibutuhkan sekitar 50-70 juta. Sementara banyak perusahaan-perusahaan lain yang membantu fasilitas kesehatan tapi biasanya untuk operasi-operasi skala besar, seperti sumbing segala macam. Sementara untuk jantung, jarang perusahaan yang fokus ke arah seperti itu  karena sangat mahal. Untuk Rp 100 juta saja, mungkin hanya dua anak yang bisa tertolong. Begitu melihat kondisi tersebut, merangkul Yayasan Jantung Anak Indonesia hingga sekarang sebanyak 37 anak sudah bisa kami bantu. Bahkan tahun ini kami berkomitmen kepada yayasan akan bantu lagi sebanyak Rp 1 miliar selama 1 tahun ini. Jadi mudah-mudahan lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan jantung bawaan bisa kami tolong agar sehat kembali.
Kami juga bekerja sama dengan Butet membangun community school di Flores. Sistemnya adalah kami didik sejumlah anak untuk beberapa tahun. Setelah anak-anaknya bisa mendidik, baru kami lepas. Dan sekarang sudah muter. Yang dididik jadi pendidik, begitu seterusnya. Yang mendidik lagi jadi pendidik lagi di sekolah itu. Sekolah-sekolah lainnya juga kami bangun, seperti waktu ada gempa Yogya, kemudian yang terakhir di Padang. Jadi kami bangun lagi, kami sediakan fasilitasnya, dll. Itu sebetulnya proyek ekonomi. Sejak tahun 2005 bahkan sebelum Nu Skin ada, proyek ini sudah ada di Indonesia.
Kami juga membantu penelitian di Laut Banda dan Papua, kemudian waktu Tsunami Aceh 2004, kami sudah provide makanan kesehatan. Jadi kalau biasanya orang kirim makanan instan yang hanya bikin kenyang, sehingga setelah kenyang timbul penyakit, maka yang kami lakukan adalah memberikan makanan sehat penuh nutrisi.
·         Apa lagi target dan rencana Nu Skin ke depan?
Tahun ini, kalau Rp500 miliar nyaris kejadian. Bukan lagi mimpi. Dengan Rp500 miliar, kami bermimpi bisa membantu 200 anak lagi di proyek Force For Good tadi. Karena terus terang berdasarkan info dari yayasan yang menjadi partner kami, itu masih banyak sekali yang membutuhkan bantuan. Karena memang jantung bawaan itu bukan hal yang murah. Jadi setiap agen berkomitmen agar setiap bulannya, mereka dapat menyisihkan 1 % dari komisinya ke yayasan. Sekarang total sudah hampir 1000 agen yang berkomitmen agar 1% komisinya masuk ke Yayasan Jantung Indonesia. Jadi mudah-mudahan ini makin besar.
·         Kalau rencana penerapan teknologi terbaru produk akan ada apa lagi?
Pertumbuhan Nu Skin tidak terlepas dari inovasi produk-produk terbarunya. Kami sudah merencanakan bahwa di tahun 2013, kami sudah punya ageLOC® Tru Face Essence Ultra. Kemudian  di tahun berikutnya akan ada produk-produk lainnya yang menggunakan teknologi ageLOC® yang benar-benar menarget tentang sel-sel pemudaan.
Di Indonesia,  produk-produk dengan teknologi ageLOC seperti ageLOC Galvanic R-Squared, dll itu sejak 2010 sudah terjual lebih dari Rp 400 miliar. Jadi cukup signifikan, demandnya tinggi serta masyarakat willing to pay. Saat ini kami ada convention, bagaimana kami benar-benar melakukan bisnis di Indonesia bukan hanya sekedar jual produk, tapi juga visi Force for Good. Itu menjadi tanggung jawab kami di samping customer kami mendapatkan sesuatu, masyarakat sekitar pun bisa kami bantu dengan bergulirnya bisnis ini. Salah satu yang kami terapkan di convention ini adalah expo dimana kami ada banyak produk-produk demo. Kami harus terus create history. Sekian persen kami tumbuh, sekian persen kami sisihkan untuk mereka yang membutuhkan.





BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Direct Selling adalah penjualan produk konsumen atau jasa, orang-ke-orang, jauh dari lokasi eceran tetap, dipasarkan melalui perwakilan penjualan independen yang kadang-kadang juga disebut sebagai konsultan, distributor atau judul lainnya.  Penjual langsung tidak karyawan perusahaan.  Mereka adalah kontraktor independen yang memasarkan dan menjual produk atau jasa perusahaan dengan imbalan komisi penjualan tersebut.


B.     Saran

Direct Selling adalah pola penjualan yang sangat efisien ,maka dari itu perusahaan yang menggunakan pola direct selling sebaiknya dikembangkan secara terus-menerus untuk menuju hasil yang lebih baik. 

Posting Komentar

 
Top